Selasa, 09 September 2014

Sejarah


Masa meramu dan berburu
Manusia di zaman ini mencari makan dengan mengumpulkan makanan dari hasil-hasil hutan yang dikumpulkan sebagai makanan, antara lain ubi, talas, buah-buahan dan sayuran. Dari hutan mereka juga mendapatkan binatang buruan, seperti banteng, kerbau liar, babi, rusa dan burung.

Alat-alat yang digunakan dalam masa ini terbuat dari batu (batu kasar ) [ zaman batu tua], kayu dan tulang. Alat-alat itu berupa benda-benda sebagai berikut:
1. Kapak perimbas yang digunakan untuk merimbas kayu, menguliti binatang dan memecah tulang.
2. Alat serpih yang berfungsi sebagai gurdi, penusuk dan pisau.
3. Kapak genggam yang berguna untuk menggali ubi dan memotong daging binatang buruan.
4. Mata tombak yang berguna untuk berburu dan menggali ubi.
5. Tangkai tombak.

Ciri:
  1. 1.     Nomaden
  2. 2.     Membutuhkan api
  3. 3.     Mengenal Kehidupan berkelompok kecil
  4. 4.     Belum tahu cara menyimpan sisa makanan belum ada Religi, tata cara perkawinan, tidak melakukan penguburan terhadap mayat
  5. 5.      

Hasil Kebudayaan
Ciri
Chopper/kapak genggam 
Sebagian besar alat terbuat dari batu
Flakes/alat serpih
Terbuat dari tulang
Alat penusuk 
Hasil buatannya kasar
Tombak 
Bentuknya sederhana
Mata panah
Belum diasah/diupam


Masa bercocok tanam (diperkirakan tahun 6000 sebelum Masehi)
Masa bercocok tanam seolah-olah merupakan suatu revolusi pada masa prasejarah. Hasil bercocok tanam masa ini adalah keladi, ubi, sukun dan pisang. Meskipun demikian, mereka masih tetap mengumpulkan hasil hutan dan berburu, misalnya mengambil sagu dan menangkap ikan.

 Mereka telah mengenal cara hidup seperti di bawah ini:
  • Ë Cara hidup dari meramu dan berburu berubah menjadi bercocok tanam di ladang ataupun di sawah.
  • Ë Cara bertempat tinggal yang berpindah-pindah berubah menjadi menetap/sedenter.
  • Ë Kehidupan sudah teratur , Hidup Berkelompok, berkembang jadi desa , dan punya pemimpin
  • Ë Bahan pembuat peralatan hidup dari batu kasar berubah jadi batu halus dan diperindah
  • Ë Kepercayaan mulai berkembang.
  • Ë Mulai mengenal Seni (melukis atau membuat gambar hiasan di dinding gua sperti : gambar tangan , binatang,dll)
  • Ë Mengenal Perdagangan Barter
  • Ë Menyimpan sisa makanan
  • Ë Mengenal Kepercayaan

o   Animisme      = percaya pada roh
o   Dinamisme    = percaya pada benda yang memiliki kekuatan gaib
  • Ë Mengenal penguburan mayat
  • Ë Sudah mengenal cocok tanam sederhana
  • Ë Menghasilkan makanan = food producing


Biasanya seorang pemimpin dipilih karena mempunyai kemampuan yang lebih daripada yang lain. Selain harus memimpin kelompok, ia juga harus mampu menghadapi bahaya alam, maupun perang antar suku. Mereka sangat taat dan menghormati pemimpinnya. Hal ini dapat dilihat dari adanya bangunan yang disebut menhir. Mayat sang pemimpin dikuburkan dalam kubur batu, dan di atasnya diletakkan dolmen.

Hasil Kebudayaan  :
1.Beliung Persegi
diduga digunakan untuk upacara. Ditemukan di Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Semenanjung Melayu dan Asia Tenggara.

2. Kapak Lonjong
Kapak ini ditemukan di daerah Maluku, Papua, sebagian Sulawesi Utara, Kepulauan Filipina, Taiwan dan Cina.

3. Mata Panah
Digunakan untuk berburu dan menangkap ikan. Ditemukan di daerah Papua.

4. Gerabah
Digunakan sebagai tempat untuk menyimpan benda-benda perhiasan dan sebagai alat untuk mencurahkan rasa seni. Ditemukan di seluruh wilayah Indonesia.

6. Perhiasan
Pada masa bercocok tanam kebudayan, telah dikenal berbagai bentuk perhiasan. Bahan dasarnya berasal dari lingkungan alam sekitar tempat tinggal mereka yaitu; seperti tanah liat, batu kalsedon, yaspur dan agat. Perhiasaan yang dihasilkan yaitu; seperti kalung, gelang dan lain-lain.

Disamping perhiasan tersebut juga ditemukan kebudayaan yang terbuat dari batu besar atau Megalitikum pada masa kehidupan masyarakat bercocok tanam. Kebudayaan megalitikum erat kaitannya dengankegiatan religius, yaitu kepercayaan terhadap nenek moyang. Bangunan ini dibuat berdasarkan adanya kepercayaan hubungan antara alam fana dan alam baka. Contoh Bangunan Pada Masa Megalitikum

  • Ë Menhir, adalah tugu batu tempat pemujaan terhadap roh nenek moyang, ditemukan di daerah Sumatera, Sulawesi Tengah dan Kalimantan.

Menhir

  • Ë Waruga, adalah kubur batu yang berbentuk kubus atau bulat yang dibuat dari batu utuh. Ditemukan di daerah Sulawesi Tengah dan Sulawesi Utara. Uniknya posisi Jenazah layaknya janin
  •  Ë Dolmen, adalah meja batu tempat meletakkan sesaji yang dipersembahkan kepada roh nenek moyang. Di bawah dolmen biasanya sering ditemukan kubur batu.Ditemukan di Telagamukmin, Sumberjaya, Lampung Barat.(Hasil Budaya Megalitikum)
  •  ËPunden berundak-undak, adalah bangunan suci tempat pemujaan terhadap roh nenek moyang yang dibuat bertingkat-tingkat. Ditemukan di daerah Lebak Si Beduk daerah Banten Selatan.
  •  Ë Sarkofagus, adalah peti jenazah yang terbuat dari batu bulat (batu tunggal).Banyak ditemukan di Bali. Sarkofagus adalah keranda batu atau peti mayat yang terbuat dari batu. Bentuknya menyerupai lesung dari batu utuh yang diberi tutup.


Ë Kubur batu, adalahb peti jenazah terbuat dari batu pipih. Banyak ditemukan di daerah Kuningan, Jawa Barat.

Ë Arca, arca dari masa megalitikum menggambarkan kehidupan binatang dan
manusia. Banyak ditemukan di Sumatera Selatan, Lampung, Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Masa perundagian (pertukangan)
Masa perundagian ini merupakan perkembangan masa bercocok tanam. Masa Perundagian adalah zaman di mana manusia sudah mengenal pengolahan logam.Manusia di masa ini mulai mengembangkan ekonomi produksi dengan bercocok tanam.
  • Ë sudah mengenal pembagian kerja
  • Ë menguasai beberapa teknik pembuatan barang, mulai teknik cetak, pandai besi sampai konstruksi. Barang-barang yang dihasilkan pada masa perundagian ini adalah barang-barang cetakan dari logam, perunggu besi dan gerabah.
  • Ë Petani berhumah sudah berubah menjadi petani bersawah
  • Ë Mengenal Teknik Cetak:      bivolve & a cire perdue

*     bivolve dan a cire perdue. Teknik bivolve dilakukan dengan cara menggunakan cetakan-cetakan batu yang dapat dipergunakan berulang kali. Cetakan terdiri dari dua bagian (kadang-kadang lebih, khususnya untuk benda-benda besar) diikat. Kedalam rongga cetakan itu dituangkan perunggu cair. Kemudian cetakan itu dibuka setelah logamnya mengering.

*     Teknik a cire perdue dikenal pula dengan istilah cetak lilin. Cara yang dilakukan yaitu dengan membuat cetakan model benda dari lilin. Cetakan tersebut kemudian dibungkus dengan tanah liat. Setelah itu tanah liat yang berisi lilin itu dibakar. Lilin akan mencair dan keluar dari lubang yang telah dibuat. Maka terjadilah benda tanah liat bakar yang berongga. Bentuk rongga itu sama dengan bentuk lilin yang telah cair. Setelah cairan logam dingin, cetakan tanah liat dipecah dan terlihatlah cairan logam yang telah membeku membentuk suatu barang sesuai dengan rongga yang ada dalam tanah liat. 

Hasil Kebudayaan   :
  1. 1.     Bejana Manusia Purba Masa perundagian
  2. 2.     Nekara Manusia Purba Masa perundagian
  3. 3.     Kapak corong Manusia Purba Masa perundagian
  4. 4.     Perhiasan Manusia Purba Masa perundagian
  5. 5.     Perunggu Manusia Purba Masa perundagian



http://smakita.net/kehidupan-manusia-purba-masa-perundagian/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar