Sabtu, 21 Juni 2014



Resensi
Kumpulan Cerpen karya "Kuntowijoyo"
"Pelajaran Pertama bagi Calon Politisi






IDENTITAS BUKU

Pengarang:Prof. Dr. Kuntowijoyo
Penerbit: Kompas
Tempat Terbit: Jakarta
Tahun Terbit: 2013
Cetakan: Pertama, September 2013
Ukuran: 13cm x 19cm
Jumlah Halaman: XVIII + 150 halaman
ISBN 978-979-709-742-4
Harga: Rp. 36.000,


PENDAHULUAN

Indonesia merupakan negeri yang kaya akan seni, budaya, sastra, sejarah, dan  beragam kekayaan lainnya. Sastra dan sejarah bila dikombinasikan mungkin menjadi subuah karya yang apik ditangan seorang Kuntowijoyo. Penggemar buku sastra atau cerpen mungkin sudah banyak mengenal siapakah Kuntowijoyo.

LATAR BELAKANG PENGARANG
 Prof. Dr. Kuntowijoyo adalah seorang sejarawan yang menulis fiksi atau seorang novelis , penulis lakon, penulis cerpen yang suka sejarah dan sangat produktif. Beliau produktif menulis puisi, cerpen, dan novel sejak tahun 1960-an hingga tahun 2000-an. Yang paling fenomenal dan paling diingat para pemerhati serta pecinta sastra barangkali terpilihnya cerpen Kuntowijoyo sebagai cerpen terbaik Kompas selama tiga kali berturut-turut. Yaitu Laki Laki yang Kawin dengan Peri (1994), Pistol Perdamaian (1995), dan Anjing-Anjing Menyerbu Kuburan (1996). Hal tersebut mengantarkannya meraih penghargaan Anugerah Kesetiaan Berkarya Bidang Penulisan Cerpen dari harian Kompas (2002).  Tidak hnaya penghargaan dalam negeri saja tetapi penghargaan luar negeri seperti ASEAN Award & Culture (1997) dan SEW Write award dari pemerintah Thailand (1999). Hal itu seakan menegaskan bahwa Kuntowijoyo adalah “sosok yang lengkap.”  Walaupun Kuntowijoyo telah dipanggil Sang Esa, dan mungkin tiada akan lagi karya yang dia ciptakan. Tetaplah karya-karya Beliau masih tetap harum dan tetap berguna untuk dibaca serta dipelajari sepanjang masa.
GAYA PENGARANG
Kuntowijoyo mampu menyatukan sejarah dan fiksi serta dikemas menjadi cerpen yang menarik dan  mengandung pesan moral & kritik sosial yang tersirat pada setiap cerpen beliau. Buku karya Kuntowijoyo ini terdiri atas 15 Judul cerpen. Dari cerpen yang diterbitkan Kompas pada 24 april 1994 yang berjudul “Laki-laki yang Kawin dengan Peri” sampai karya cerpen terakhirnya yang berjudul “RT 03 RW 22 Jalan Belimbing atau Jalan Asmaradana” yang diterbitkan Kompas, 4 April 2004.
Kekhasan Pengarang dengan penulisan bahasa Indonesia yang dituliskan juga terdapat di karya-karya novel sebelumnya. Bahasa yang digunakan pengarang adalah bahasa percakapan, colloqualism,  yang sekaligus menunjukan sebagai orang Jawa yang berbahasa Indonesia njawani. Setelah membaca buku ini kita dapat merasakan kita seolah dibawa ke masa lalu dan diperlihatkan kondisi dan problematika sosial masyarakat pada saat itu pada beberapa cerpen. Dan dari kebanyakan cerita berlatar di jawa dan pelakunya yang terlibat Orang Jawa meskipun ada yang berlatar di luar negeri.  

PERBANDINGAN ISI BUKU DENGAN BUKU LAIN
Dibandingkan dengan karya Linus Suryadi A.G, Pengakuan Pariyem , buku ini lebih banyak menyajikan alih kode, dengan memasukan kata – kata jawa. Tetapi Kunto tak sepenuhnya “mengekor” mereka. Dia memiliki caranya sendiri, misalnya kosong-song juga misalnya ini ia dicium. Buku yang diciptakan oleh Kuntowijoyo ini memiliki kekhasan yaitu menggunakan bahasa jawa dan “njawani”.
TEMA BUKU
Secara keseluruhan tema dari buku ini yaitu tentang pelajaran hidup. Pelajaran hidup yang dimaksud adlah pesan untuk orang-orang supaya bijaksana, sabar, pengorbanan, menghargai orang lain, tidak meremehkan orang lain, tidak boleh menghalalkan segala cara untuk mencapai sesuatu  dan menjaga kepercayaan orang lain.
KESAN TERHADAP BUKU
            Buku ini menyajikan kumpulan cerpen karya Kuntowijoyo yang dikerjakan dengan mengesankan. Meskipun agak menggunakan istilah yang bisa dikatakan agak tinggi mengakibatkan agak sedikit membingungkan. Tetapi secara keseluruhan buku ini cukup banyak mengandung pesan moral yang baik.  

ISI RESENSI
1.     SINOPSIS
Dari 15 judul cerpen yang menarik untuk dibaca ada 3 cerpen yang unik. Resansator mengambil 3 cerita untuk dibahas mewakili keseluruhan cerita
 Pada salah satu cerpen yang berjudul “Laki-Laki yang Kawin dengan Peri” yang melukiskan tentang seseorang yang menikah dengan peri sementara hidupnya disia-siakan oleh masyarakat.  Lelaki itu bernama Kromo busuk. Dia semula orang yang normal dan berkecukupan. Dia punya sepetak sawah, mampu berkebun, memelihara ayam, menjual hasil kebun ke pasar, serta mampu bertahan tanpa bergantung pada kebaikan pasar. Namun keadaan mulai berubah saat malam pertamanya setelah menikahi gadis desa lain. Awalnya dia sendiri yang menyadari bau busuk selanjutnya orang lain mengetahuinya dan sampai akhirnya dia dikucilkan dan dia putus asa hingga dia berusaha ingin mati dengan tidur di sawah yang berbatu yang diketahui angker. Sampai akhirnya di sawah itu dia didatangi seorang peri yang diakuinya cantik. Menikahlah Kromo dengan peri itu. Sampai suatu saat ada orang yang menanyakan walaupun Kromo orang yang baik, dermawan, suka membantu, tidak pernah menyakiti orang lain, mengapa orang lain tidak henti-hentinya mengucilkan dan menghina dia. Setelah itu Kromo meninggal dunia dan terjadi pageblug di desa itu.
Ada juga cerpen yang berjudul Anjing-Anjing yang Menyerbu Kuburan” yang mengisahkan seorang laki-laki yang ingin kaya dengan cara mengamalkan ajaran sesat dari sang Guru. Mulai dari sulitnya bertapa hingga misinya yang terakhir yang telah menantinya yaitu  menggigit telinga manusia yang meninggal pada malam Selasa Kliwon.  Ahl itu dilakukan karena dia ingin kaya mendapat kebahagiaannya dan kelurganya yang selalu hidup kesusahan. Dimulai dari membaca mantera untuk menidurkan para penjaga, menabur beras kuning di setiap 4 mata angin serta di tempat para penjaga. Dan dilanjutkan menggali tanah kubur yang masih merah itu untuk mengangkat mayat kepermukaan tanah dan segera menggigit telinga mayat itu. Kejadian itu bermula ketika dia akan menggigit telinga mayat lalu muncul dua anjing di tengah kegelapan malam, yang muncul bertambah banyak seiring semakin dia berusaha menggigit telinga mayat itu serta memukuli anjing-anjing itu.
Dan juga cerita yang judulnya dijadikan cover buku yaitu “  Pelajaran Pertama bagi calon Politisi” yang mengisahkan  politik yang kotor di jaman pemerintahan  Soeharto. Menceritakan dua orang yang mencalonkan diri sebagai Kades yaitu Pengusaha konveksi antara pensiunan TNI. Pengusaha Konveksi yang bernama Sutarjo memakai lambang Padi dan lawannya pensiunan TNI memakai lambang senapan. Mereka saling bersaing untuk berebut citra penduduk. Sutarjo meski mencoba menarik perhatian rakyat dari saran penasihatnya untuk bertoleransi mendekati kesyirikan, dan cara –cara lain yang bersifat religi seperti tahlil, yasinan, pengajian akbar dan sarasehan tentang toleransi.  Sedangkan lawanya menggunakan taktik lain seperti mengundang tayub untuk berjoget bersama penduduk,wayngan dengan waranggana yang cantik, menjanjikan sejumlah uang kepada para pemilih. Ditambah lagi ada 2 masalah yang menguntungkan Senapan dan yang paling penting ia bekrja sama dengan panitia untuk memberi nomor pada kartu pilihnya. Agar Senapan tau siapa saja yang memilih Senapan dan memberi uang yang dijanjikan.Dengan cara seperti itu akhirnya kubu Senapan memenangkan pemilihan itu. Dan Padi kecewa, Sutarjo menghibur dirinya sendiri dan penasihatnya masih menyuruh Sutarjo untuk rujuk dengan mengumpulkan kader kedua belah pihak, pimpinan Muspika, mahasiswa, wakil-wakil pemuda. Meskipun di rapat ia mendapat dukungan, dan ketika mereka diundang ke rumah sutarjo ternyata hanya orang – orang padi, Muspika, Lurah, Camat, Danramil, Kapolsek yang hadir. Dan Senapan sudah menanti untuk mendaulat supaya Muspika hadir di Balai desa.

2.     ULASAN BUKU
Dengan deskripsi tentang detail baik suasana maupun tempat yang diceritakan dengan mengalir indah, dialog antar tokoh-tokohnya yang saling bertautan, juga bangunan konflik yang di bangun, bisa untuk memancing daya emosi dan imajinasi pembaca seakan kita sendiri yang sedang menonton langsung kejadian itu. Selain itu ending yang sering tak terduga membuat pembaca tidak saja setia untuk menyusuri kata dan kalimatnya tapi bahkan bisa larut di dalamnya
3.      KELEMAHAN & KELEBIHAN BUKU
Dari segi cover buku, Kelebihannya buku ini dengan sampul halus bewarna kuning pastel dengan gambar baju Kades ditengah dan terdapat gantungan daru tanda tanya. Dari segi cover tersebut memang cukup cocok dengan judul buku Pelajaran Pertama bagi Calon Politisi. Kekurangannya dari judul buku, karena banyak remaja yang merasa malas untuk membaca buku ini begitu melihat kata politisi.
Dari Isinya, Kelebihan isinya secara keseluruhan menyampaikan pesan tersirat bagaimana menjadi seseorang yang baik dan berpolitik yang bersih.  Telah ditunjukan di dalam cerita apabila kita berbuat salah tentu kita akan menerima akibatnya.
Dari segi bahasa, banyak bahasa dari pengarang yang njawani. Memang njawani adalah ciri khas pengarangm dan sudah dicantumkan maksud kata yang berbahsa jawa. Kekurangannya adalah masih ada beberapa perkataan Jawa yang tidak dituliskan artinya, sehingga resensator bingung.
Dari segi cerita, Kekurangannya adalah Resensator harus membaca dengan serius untuk menemukan maksud dan pesan tersirat dari cerita  pendek.
Dari segi alur, terdapat beberapa cerita yang mempunyai alur campuran seperti Sampan Asmara, Jangan Dikubur Sebagai Pahlawan, RT 03 RW 22 Jalan Belimbing atau Jalan Asmaradana

4.     TINJAUAN BAHASA
            Bahasa yang digunakan pengarang dalam cerita adalah bahasa Indonesia yang njawani (collequalism) dan bahasa percakapan.


5.     KESIMPULAN
            Dari buku kumpulan cerpen tersebut, kita menyimpulkan “Don’t Judge a Book by its cover.” Jangan mencela buku dari luarnya. Tapi bacalah dahulu, di buku ini sangat sarat akan pelajaran hidup.  Secara keseluruhan dari 15 cerpen ini, pengarang berhasil mengolah cerita yang mengisahkan masa lalu untuk mejadi bahan petikan dan tidak membosankan.
Berbicara tentang manfaat, kumpulan cerpen ini mungkin dapat berkontribusi dalam memperkaya khasanah ilmu pengetahuan para pembaca khususnya kalangan muda. Berbagai amanat yang tertuang dalam baris-baris yang pengarang tulis dapat dijadikan pelajaran hidup bagi si pembaca. Agar kedepannya dapat menjadi acuan hidup untuk menghadapi kenyataan sosial masyarakat sekarang.
Kita hidup harus menghargai, menghormati orang lain,  suka membantu bila orang lain kesusahan, harus patriotisme, dan menjaga kepercayaan orang lain terhadap kita. 


#semoga bisa membantu,  :) 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar